BAB-BAB KANG JAWANI, MURIH TINEMU AYEMING ATI

KLAWAN SIRA KANG TRESNA MRING SASTRA BUDAYA JAWA, NYAWIJI ING KENE

Sabtu, 16 April 2011

Bali Mring Pranatan Alam

Ora jeneng leluwihan yen kudu ngersula, sambat lan sedhih. Jalaran wis pirang-pirang mangsa among tani gagal panen. Aja maneh panen, tandur wae angel urip. Prasasat entek amek kurang golek anggone mbudidaya murih bisa ngundhuh, ewasemana akeh nemahi cabar, gagar wigar tanpa karya. Geneya?
Dudu perkara gampang ngudhar perkara iki. Kalebu ngonceki underane, apa amarga ama, mangsa, lemah, apa pancen para among tani sing dadi uleganing perkara? Yen nyalahake ama, ama iku wis ana wiwit kuna. Yen mangsa, mangsa yekti dudu kuwasane manungsa. Banjur, apa lemah? Apa pancen para tani?
Manut paugeran kuna sing dijlumati lan pinercaya dadi andel-andele wong Jawa duking uni, yekti tetanduran mono dudu kuwasaning manungsa, nanging alam. Alam kang ngukir uriping tetanduran, prasasat ananing wongtuwa klawan putra-putrine. Iku kang nuli kaprah sinebut ibu bumi bapa akasa. Among tani duksemana tansah ngiblat mring laku alam. Sakaliring kang tinandur dadi tuwuh, lemah gemah ripah loh jinawi, jalaran kuwawa nunggalake jodho loro; ibu bumi lan bapa akasa, dene petani saiki apa mangkono?
Duksemana among tani ngugemi anane etung mangsa kanthi pranata mangsa. Jinis tanduran, kapan nandure, carane piye sarwa nut mring laku alam. Jalaran alam mlaku winengku kodrat. Nanging para tani saiki wis wani ninggal pranatan kasebut. Racake dumeh ana teknologi, kaya-kaya alam nedya kakendhaleni. Ninggal pranatamangsa, singlar mring kodrating laku alam. Kamangka samubarang kalir yen kaayahi tanpa manut aturane, adoh bathi cepak ing bilahi. Mangkono uga alam. Alam duwe ukum mesthi lan manungsa minangka perangan alam becike semadulur mring alam.
Ing kene becik, among tani bali maneh ing ngelmu para ngaluhur. Sing yekti ngelmu tetanene dudu kasurung dening karep murka, nanging murih piye alam bisa awet lan tuhu dadi warisan emas, kang piguna ing urip saiki lan mupangat ing tembe-mburi. Sumangga. (Wis kamot ing Mingguan Joglo Pos - Klaten, 11 April 2011)

Rabu, 03 November 2010

LEGENDA NYAI DLONGEH

LEGENDA LEDEK NYAI DLONGEH
CERITA DARI KLATEN
Oleh Yan Tohari
Nyai Dlongeh adalah seorang ledek yang beranjak dewasa dari sebuah kampung kecil lereng perbukitan Diwon. Walaupun dari kampung tetapi suara, penampilan sekaligus kepiawaian olah tari sangatlah mumpuni. Maka tak ayal menjadikan Nyai Dlongeh mudah dikenal dan digandrungi para pecinta ledek. Dimana rombongan ledek itu keliling selalu mendapat perhatian dari masyarakat luas.
Hidup sebagai ledek memang sudah menjadi pilihan, karena dengan itu Nyai Dlongeh mampu memenuhi kebutuhan hidup yang sudah sebatang kara yang sejak kecil telah ditinggal kedua orangtua. Kini hidup Nyai Dlongeh menumpang di tempat pamannya yang sekaligus sebagai ketua rombongan ledek, yaitu Ki Bangkek. Saat habis panen rombongan ledek Nyai Dlongeh berkeliling sampai jauh keluar wilayah perbukitan Diwon. Ledek adalah bentuk hiburan yang ada dan murah saat itu, maka sewajarnya saat habis panen menjadi hiburan di kalangan rakyat kecil.
Jauh dari wilayah perbukitan Diwon, tersebut sebuah tokoh narapraja di Kerajaan Pajang, Tumenggung Kebolandhu. Tokoh ini memang kelihatannya ingin memanfaatkan peluang untuk merongrong kekukuasaan Adipati Benowo yang saat itu telah mulai redup. Apalagi Pajang kala itu pada posisi terjepit karena selalu mendapat desakan dadi Mataram yang kelihatannya mulai bersinar dan perkembang menjadi kerajaan besar saat diperintah oleh Danang Sutawaijaya.
Diluar pengetahuan Adipati Benowo, Tumenggung Kebolandhu merekrut para tokoh-tokoh yang tersebar di berbagai wilayah untuk menyusun kekuatan. Tak ketinggalan pula seorang tokoh yang tinggal tidak jauh dari perbukitan Diwon, tepatnya di pucuk Gunung Beluk bernama Ki Joko Pekik. Seorang tokoh yang cukup sakti dan dihormati di sekitar Gunung Beluk. Tokoh yang terkenal memiliki area pertanian yang luas ini juga memiliki murid atau pengikut yang lumayan banyak. Kelebihan itulah yang mendorong Tumenggung Kebolandhu mendekati Ki Joko Pekik.
Saat hari menjelang senjakala, kedua utusan Tumenggung Kebolandhu, yaitu Rumeksa dan Kulumbana mendekati lereng Gunung Beluk. Keduanya di utus untuk menemui Ki Joko Pekik. Tapi belum lagi Rumeksa dan Kulumbana menuju ke puncak Gunung Beluk, tanpa terlihat tanda-tanda sebelumnya munculah dua orang pemuda yang secara tiba-tiba menyerang kedua prajurit Pajang itu. Namun, kedua utusan Tumenggung Kebolandhu itu bukan prajurit sembarangan. Walau serangan itu datang tiba-tiba, keduanya mampu mengelak. Untuk selanjutnya terjadi pertarungan antara mereka.
Merasa agak terdesak kedua pemuda lereng Gunung Beluk itu segera mengeluarkan senjata, namun Rumeksa dan Kulumbana tak menginginkan pertempuran itu berlanjut. Untuk sejenak keduanya terhenti, dan secara bersamaan mengeluarkan benda dari balik baju berupa lempengan logam. Itulah tanda atau simbol, jika Rumeksa dan Kulumbana adalah datang bukan sebagai musuh. Akhirnya pemuda lereng Beluk itu memahami, segera keduanya menghantar kedua utusan Pajang itu menemui Ki Joko Pekik.
Dihadapan Ki Joko Pekik, Rumeksa dan Kulumbana menyampaikan pesan dari Tumenggung Kebolandhu, bahwa narapraja Pajang itu untuk beberapa hari mendatang akan berkunjung ke Gunung Beluk. Sekaligus ingin mengajak bergabung dalam menyusun kekuatan merebut kekuasaan Adipati Benowo. Hal itu sangatlah disetujui oleh Ki Joko Pekik, sehingga sepeninggal Rumeksa dan Kulumbana tokoh dari Gunung Beluk itu mempersiapkan segala sesuatu, tak lupa sajian hiburan dengan mengundang Ledek Nyai Dlongeh.
Kedatangan Tumenggung Kebolandhu disambut meriah oleh Ki Joko Pekik dan para muridnya. Hingga sampai sajian hiburan Ledek Nyai Dlongeh ditampilkan. Tumenggung Kebolandhu sangat terkesan, apalagi melihat paras Nyai Dlongeh yang cantik, gerak tari lemah gemulai dan suara yang syahdu. Dari situlah timbulah niat untuk memperistrinya. Tapi niat itu ditahan, dan untuk lain kali Tumenggung akan berutusan punggawa memboyong Nyai Dlongeh ke Pajang.
Ternyata keinginan Tumenggung Kebolandhu untuk memperistri Nyai Dlongeh bukan main-main, di suatu hari datanglah dua utusan di perbukitan Diwon untuk mengambil Nyai Dlongeh. Walau akan diperistri seorang Tumenggung tapi Nyai Dlongeh tidak mau. Bahkan bujukan sang paman pun tak dihiraukan oleh Nyai Dlongeh. Entah apa sebabnya mengapa Nyai Dlongeh tidak mau, seperti ada sesuatu rahasia yang disembunyikan.
Atas sikap Nyai Dlongeh yang tak mau menurut itu tentu saja membuat dua utusan Tumenggung Kebolandhu marah. Tak ada cara lain kedua utusan itu menggunakan kekerasan dalam melaksanakan tugas. Ki Bangkek, melihat kejadian itu tidak terima. Maka segala upaya dilakukan untuk menghalangi niat kedua prajurit Pajang tersebut. Sayang, tugas berat yang dilimpahkan terhadap prajurit itu membuat keduanya bertindak secara kasar. Ki Bangkek terpaksa dilumpuhkan, dan Nyai Dlongeh berhasil di bawa ke Pajang.
Beberapa hari tinggal di keputren katemenggungan seakan di neraka yang dirasakan Nyai Dlongeh. Hatinya begitu hancur, kesedihannya serasa memuncak saat teringat akan nasib beberapa orang yang ikut rombongannya. Tak lupa dengan penderitaan Ki Bangkek yang tentu saja selain menderita raga juga tak memiliki penghasilan karena kegiatan pertunjukkan ledek keliling terhenti.
Hingga saat malam tiba, Tumenggung Kebolandhu menghampiri Nyai Dlongeh. Hasrat yang membuncah di dada Tumenggung Kebolandhu sudah tidak tertahankan, maka segera dihampiri ledek itu untuk memenuhi syahwatnya. Atas kekuatan yang dimiliki Tumenggung, Nyai Dlongeh tak berdaya. Namun tindakan kasar Tumenggung terhenti, dia terkejut dan marah. Maka segera meninggalkan Nyai Dlongeh di dalam kamar dan buru-buru mencari prajurit.
Malam itu juga Nyai Dlongeh di suruh untuk dipulangkan. Sungguh tidak bisa dilukiskan betapa kecewa, malu, dongkol dan marah hati Tumenggung Kebolandhu, saat tersingkap keaslian Nyai Dlongeh. Ya, malam itu Tumenggung Kebolandhu tahu bahwa sebenarnya ledek yang memikat hatinya itu sebenarnya bukan asli wanita. Paras cantik dan gerak tari yang gemulai itu tak sesuai dengan apa yang digambarkan dalam benak Tumenggung, sebab Nyai Dlongeh adalah seorang waria.
Prajurit yang dipercaya memulangkan Nyai Dlongeh malam itu dibekali senjata keris lan tali. Atas rasa kecewa yang memuncak dan rasa malu maka Tumenggung Kebolandhu tidak ingin Nyai Dlongeh pulang dalam keadaan hidup. Prajurit itu diutus untuk membunuh Nyai Dlongeh saat sampai di perkampungannya. Pusaka keris untuk membunuh, dan tali yang terbuat dari benang putih untuk mengikat mayat Nyai Dlongeh diatas pohon.
Malang memang nasib yang menimpa Nyai Dlongeh, malam itu, saat telah sampai di wilayah yang tidak jauh dari lereng Diwon di suatu gerumbul Nyai Dlongeh di bunuh. Mayatnya diikat di batang pohon dan ditinggal begitu saja. Darah yang menetes jatuh ke tanah membuat tanah itu menjadi tanah sukerta. Artinya, sampai saat itu siapapun tidak boleh menanami tanah gerumbul itu. Pernah ada yang nekat, menanami gerumbul itu dengan tanaman kedelai. Namun saat kedelai itu dipanen dan di makan, maka sekeluarga itu menderita sakit diare. Sampai sekarang tidak ada yang berani mencoba menanami kembali.
Pagi harinya warga perbukitan Diwon menjadi gempar saat ditemukan mayat Nyai Dlongeh yang tertambat dipohon Belimbing. Dikemudian hari kampung dimana mayat Nyai Dlongeh ditemukan diberi nama kampung Blimbing. Maka segera mayat itu dirawat dan dikubur di tanah tidak jauh dari tempat tinggal Ki Bangkek, tepatnya di perbukitan Diwon.
Saat malam tiba, pada suasana yang begitu hening Ki Bangkek meratapi hidupnya juga kehidupan keponakannya Nyai Dlongeh yang bernasib tragis. Mengapa celaka nian nasib yang menimpa pada kehidupannya. Saat sepi kian menjelang, Ki Bangkek dibuat terhenyak ketika dihadapannya melintas bayangan Nyai Dlongeh. Bayangan itu seraya berucap “Bapa Bangkek jangan bersedih hati, kini aku telah hidup bahagia. Pesanku jangan bangun kuburku sampai kapanpun. Sebab aku ingin segalanya apa adanya. Dan ingat, saat nanti apabila ada satriya dari selatan yang jiarah di kuburku, maka orang itulah yang akan membalaskan kekejaman yang aku terima.” Demikian kata-kata samar terucap dan terus diingat oleh Ki Bangkek.
Beberapa bulan kemudian Ki Bangkek ditemui seorang pemuda yang berkeinginan mau bertapa di bukit Diwon. Laki-laki itu mengaku datang dari selatan, persisnya wilayah tepi Laut Kidul. Pemuda itu mengaku bernama Mas Tompe. Batin Ki Bangek teringat akan pesan Nyai Dlongeh, mungkin pemuda ini yang akan memberikan kepuasan akan ratapan nasib sedih yang menimpa selama ini. Maka betapa gembira hati Ki Bangkek, dendam kepada Tumenggung Kebolandu akan segera terbalas.
Mas Tompe sampai beberapa hari bertapa di bukit Diwon, dan akhirnya pemuda itu berpamitan kepada Ki Bangkek untuk meneruskan perjalanannya. Pemuda itu berjalan ke utara, ya semakin jelas apa yang dipesankan Nyai Dlongeh bahwa orang ini yang akan membalaskan dendamnya kepada Tumenggung Kebolandhu.
Betul memang, Mas Tompe yang akhirnya berkuasa di Pajang. Dan atas niat yang terungkap bahwa Tumenggung Kebolandhu menyusun kekuatan untuk merongrong Pajang maka diberikan hukuman mati. Kabar atas hukuman mati terhadap Tumenggung Kebolandhu sampai pada Ki Bangkek, betapa gembira dan bersyukurnya paman Nyai Dlongeh mendapat kabar itu. Hingga akhir hayat Ki Bangkek tak meninggalkan kawan bukit Diwon, maka daerah itu akhirnya diberi nama kampung Bangkek. (*)

Selasa, 24 Agustus 2010

Sluman-Slumun Slamet

Slamet apadene keslametan dadi underan wigati jroning sadhengah wewengkon panguripan. Kepara ing Jawa bab iki dadi napas sing tansah kumedher ing saben-saben wayah, embuh iku ing laku spiritual, seni, budaya, lan gatra laku apa wae. Ora aneh ing Jawa ana donga slamet, wong jenenge Slamet, piyandele arane Kyai Slamet, lan ingon-ingone wae kawenehi jeneng Si Slamet. Yekti slamet, dadi impen, idham-idhaman lan pucuking panjangka sing tanpa ana wates lan bontose.
Kamangka ing kasunyatane urip datan mangkono kang lumaku. Ing panguripan iki sarwa kawengku ing loro kodrat kang tansah lumaku kosokbalen, sing siji tansah kabudi lan siji maneh kasingkiri, yaiku ana padhang ana peteng, ana bungah ana susah, ana begja ana cilaka, ana slamet lan ana apes, mangkono sapiturute. Amarga arane kodrating urip, mesthi wae tan ana sijia kang bisa endha saka kekarone. Kabeh dadi temalining urip kang sarwa ngreka saengga dadi wirama kaendahan siji lan sijine.
Lupute nampa pepadhang bakal nyangkul pepeteng, lupute nampa begja mesthine nyandhang cilaka, lupute slamet bakal nampa apes, mangkono kuwi terus sapiturute. Ewasemana budhal saka panglenggana kasebut, katambah manggon jejering titah, bebrayan Jawa emoh ngono wae ngalah saka araning kodrat. Awit, urip manut pangerten Jawa iku obah. Obah bisa ditegesi ikhtiyar, ing kene ana kapitayan yen mburu pepadhang, begja, bungah, teka keslametan dadi wajibing urip. Nadyan wekasane saben-saben pambudi mau tansah kawungkus klawan kesadharan nrimah mawi pasrah apadene nrima ing pandum.
Pancen tinemu ukuran mligi mungguhe bebrayan Jawa kanggo milahake ing kinaran slamet ing urip. Kanthi cara kang kaprah mbokmanawa kang kaaran slamet yaiku sarwa-sarwi ketemu begja. Sakaliring panjangka kang kawawas dadi tambahing kamulyan bisa karengkuh tanpa ana sambikala. Niskala, nirbaya, nirwikara. Upamane ta kesandhung bebaya, sakabehe bisa kaadhepi lan kaudhari saengga bebaya mau tan kuwawa nyabarake laku. Kawujudan kang mangkene iki mbokmanawa ukuran slamet kang akeh ditegesi ing berayan akeh, kinaran slamet yen ta tan nate kacuwit dening saru-sikuning urip.
Manawa bener mangkono, mbokmanawa slamet iku sawijine kang mokal kelakon. Awit sakaliring kang tumitah mono ora bisa uwal saka kurang, lali, lan apes. Mula pamengkune slamet iku satemene ana ati. Ukuran slamet mring pangerten Jawa bisa katilik saka ujaring para pinter ing kene, dening RMP Sosrokartono katandhesake urip slamet iku linambaran telung ukara, yaiku legawa marang apa kang wis kelakon, trimah marang apa kang dilakoni, lan pasrah marang apa kang bakal kelakon. Nuli teteluning ukara mau kawungkus klawan telung tembung trimah mawi pasrah.
Dene jroning pupuh Gambuh kang tinemu ing Serat Wedhatama yasa Sri Mangkunegara IV kawedharake ; meloking ujar iku, yen wus ilang sumelanging kalbu, amung kandel kumandel marang ing takdir, iku denawas denemut, denmemet yen arsa momot. Katambah ing Wirid Hidayat Jati (RNg. Ronggowarsito) kapratelake yen apesing urip iku sarwa kajalari dening limang tumindak raga (ulah crobo, laku nistha, tingkah degsura, sarwa kesed sungkanan lan lumuh nastapa pujabrata) lan limang tumindak jiwa (ngumbar hawa nepsu, ngumbar suka-renaning karsa, anggelar ambeg angkara, amedhar watak dora paracidra lan anuruti budi pitenah aniaya).
Mangkono slamet kategesi ora banjur urip lurus tanpa sengkala, nanging mapan ing wani mring garising takdir lan ngugemi wewatoning bebener. Istingarah sing kinaran apes, lamun kinunjara was sumelang mring pepesthi sarta ringkih ing bebener. Kanthi kuwawa ngalahake rasa was sumelang ing sadhengah wewengkon urip, gilir-gumantining napas lumaku mardika. Bebas saka sesangganing pikir, adoh saka kunjaraning culika. Iku kang kinaran sluman-slumun slamet . (*)

Ngudi Kuwating Akal lan Pikir

Keri-keri iki akeh sesambat kang keprungu ing bebrayane wong cilik. Prasasat matumpa-tumpa wujuding sesanggan, durung rampung siji wis njedhul liyane. Endi among tani sing gagal panen awit trajange wereng coklat, endi para wongtuwa sing kabotan mbayar waragat sekolah anak, kasambung reregan kang ndedel, malah kompor gas sing kerep mbledhos katon melu nyaur wuwus. “Tobel…tobel…,” mangkono Uwa Kerta tangga tunggal pager keprungu rerantan sambat-sambat.
Sambat. Ngersula. Ngaru lara. Saweneh wujud pratelaning titah kanggo nelakake aboting sesanggan. Nanging sejene kuwi sesambat pancen sithik bisa nipisake wujud sesanggan. Ewasemana yen sabanjure kerep sesambat, istingarah ngringkihake batin. Lamun batin wis ringkih, adhakane pamikir tumuli kewuhan kanggo metungake bener apadene luput. Kang mangkene iki kang wekasan nukulake tumindak nasar.
Kawujudaning tumindak nasar mau tinemu werna-werna, kang dening saperangan bebrayan kaanggep dadi cara sing pungkasan – ora ana liya. Kamangka iku mau thukul saka pamikir sing buntu, pethaning pamikir buntu wis mesthi keladuk wani kurang deduga. Kala-kala tindak nasar bisa gawe rugining dhiri pribadi, lan bisa uga gawe pitunaning liyan.
Kacupeting pikir, akeh bebrayan saiki nganyut tuwuh minangka dalan pungkas. Iki cara sing banget gawe rugi dhiri pribadi. Saperangan ana kang wani nekat, kayata awit kasurung dening pikir puteg lan kaesuk werna-werna kabutuhan sing wis angel diupadi cara pangudhare, terus wani colong jupuk, ngrampog, njarah-rayah lan sapanunggalane. Kang mangkene iki genah cara sing ngembet marang pitunaning liyan.
Salugune ing urip mono ora ana kang luput saka sesanggan. Saka jaman lumaku ing jaman liyane, titah sarwa winengku dening sesanggan. Kang mbedakake amung sebab kang dadekake anane sesanggan mau. Gusti Kang Maha Kawasa, yekti nitahake janma sarwa tingeran akal lan pikiran. Akal lan pikiran kang nglungguhake manungsa minangka kawula kang luwih mulya katimbang titah liyane. Wondene sesanggan sawijine cara kanggo nguji titah sepira kuwanene migunakake akal lan pikiran jroning urip.
Pancen dudu perkara gampang ngemonah sesanggan klawan kekuwatan akal lan pikir. Mula ora aneh amung siji loro kang lulus kanggo bisa migunakake. Jalaran saben-saben akal lan pikir ora kabeh kagladhi, kawulang lan kacoba ngudhari werna-werna sesanggan. Luwih-luwih ing jaman saiki, akal lan pikir prasasat kagawe kethul dening gebyar donya. Tundhone nadyan amung kaesuk dening perkara sepele wae wis akeh sing nglumpruk, manungkul lan kalah, lan saperang tinggal glanggang colong playu.
Nuli kepriye mungguh ngracik akal lan pikir sing kuwat? Wangsulane ana ing tembang Kinanthi kang tinemu ana Serat Wulangreh “padha gulangen ing kalbu, ing sasmita amrih lantip, aja pijer mangan nendra, kaprawiran den kaesthi, pesunen sariranira, sudanen dhahar lan guling.” (*).

Senin, 05 Juli 2010

Wigatine Ngelmu lan Laku

dening : Yan Tohari


ngelmu iku
kalakone kanthi laku
lekase lawan kas
tegese kas nyantosani
setya budya pangekese dur angkara
(Pocung, Serat Wedhatama Yasane Mangkunegara IV)

Ngelmu iku kalakone kanthi laku. Mangkono uga kang wis dadi laku ing sawetara dina kepungkur. Saweneh ada-ada pendadaran kang kaprah sinebut UN (Ujian Nasional), mujudake piranti pangukur mring kasil lan orane pelajar ngrampungake pawiyatan. Pendadaran aran UN kang kuwawa nglairake werna-werna tumindak, saka gorehing kaum pelajar, was-sumelang para wongtuwa nganti teka pihak-pihak kang nggunakake kanggo kauntungan pribadi.
Ujian Nasional kang trep-trepane teka seprene isih ngemu perdondi - antarane pro apadene kontra - pancen katetepake minangka laku ing pangukur pamungkas mungguh kasil orane siswa ngliwati pawiyatan. Saengga saka kawicaksanan kasebut nglairake panyakrabawa yen lakune pawiyatan prasasat manggon klawan angka-angka ing pandadaran pamungkas iku. Istingarah nyurung pambudi entek-entekan para pelajar apadene wongtuwane murih ujian pamungkas bisa kasil utawa lulus. Emane pambudi sing ngono iku asring nglirwakake angger-angger utama, kang ngregeti kaluhurane pawiyatan.
Lamun kita gelem nyemak klawan apa kang nate katuturake Drs. RPM Sosrokartono, tokoh kang uga kawentar minangka kadang sepuhe RA Kartini iki nggarisake mring wigatine laku ing ngelmu. Manut priya kang kacathet minangka wartawan New York Herald iki, yen ing ngelmu kudu cumondhok anane laku. Dene laku iku arupa manembah mring Gusti lan ngabdi mring sesami. Sawijine pangerten kang nengenake kautaman sarta mengku ing kamulyaning liyan, dudu milik gendhong lali.
Tokoh kang uga kawentar kanthi sesebutan Mandhor Klungsu iki miterangake wigatine laku jroning ngelmu ing larikan tembung mangkene ; ngawula dhateng kawulaning Gusti lan memayu ayuning urip. Memayu awoning gesang : nyuwita, ngawula, bakti dhateng sesami. Lampah kula tansah anglampahi dados kawulaning sesami, tansah anglampahi dados muriding agesang. Wajib tiyang gesang sinau anglaras batos saha raos.
Priyagung putra Bupati Jepara RM Adipati Ario Sosroningrat lan kang kacathet minangka cendikiawan tamatan Universitas Leiden, Walanda iki luwih tlesih nandhesake yen sejatining laku ing ngelmu kudu wewaton ing bebener. Awit saka kuwi bangku pasinaon dudu siji-sijine tuk sumbering ngelmu. Satemene jroning urip lan panguripan padinan akeh gumelar ngelmu kang tanpa wilangan. Ing sakiwa-tengen kita tinemu ngelmu wigati sing kuwawa mbasuh marang kasampurnaning urip sarta mentesake rasa.
Pratelan iku karacik maneh jroning tembunge; pamulangane sengsarane sesami, sinau ambelani lan ngraosaken susah lan sakitipun sesami. Inggih punika ngraosaken lan nyumerepi : tunggalipun manungsa, tunggalipun rasa lan tunggalipun asal. Kanthi mangkono sawijine ngelmu datan darbe aji lamun lakune datan memayu hayuning bawana, tresna asih mring sesama. Balik ing kasunyatan saiki, ngelmu kayadene winates ing semu. Dhuwuring pendidikan lan gelar durung bisa dadi ukuran marang ngawula dhateng Gusti lan memayu ayuning urip. Kepara lamat-lamat nuduhake setya budya pangekesing durangkara.
Maragage yen mindeng kanyatan kang lumaku keri iki, terus katandhing klawan apa sing katuduhake tokoh-tokoh duking uni, salah-sijine RMP Sosrokartono, ateges kita mencelat mundur adoh. Jalaran sing lumaku ing wektu iki bebrayan amung winates ngagungake asil, datan ngemonah laku. Angka-angka Ujian Nasional kang dadi ukuran kasil lan orane pawiyatan siji-sijine bab kang kawawas luwih penting. Dene pakarti sing murugake apike angka mau datan kapetung. Embuh culika apa utama, waton lulus iku wis rampung.
Eman ngelmu jaman saiki amung ditengeri klawan angka, dluwang sasuwek utawa embel-embel gelar. Saka ngendi asale angka, dluwang lan gelar? Kanthi kepriye carane mbudidaya? Kala-kala ucul saka pamengku ngabdi mring Gusti lan memayu ayuning sesami. Datan mokal wasis lan pintere, gelar lan kasarjanane asring dadi underaning kanisthan. Kekejemaning para priyagung kang wuru terus nindakake korupsi dudu winates ing urusan weteng, nanging kamurkan lan kasrakahan kang aneh.
Kapinteran sing kaluru kanthi mikolehake sakaliring cara tanpa kaslempitan larasing batos lan raos, angel kadumuk atine nadyan nguningani kasangsarane sesami. Ngendi-endi kawula ketaman bencana, penyakit, nganggur, urip kesarakat, lsp ewasemana ati tetep kepengin malak. Supe marang sing winastan tunggal manungsa, tunggal rasa lan tunggal asal. Urip kawawas urusane aku lan kulawargaku, aku lan sedulurku sarta aku lan golonganku. Malah kalamun wenanga jagad kaya-kaya nedya kakukut kanggo dhirining pribadi. Gumun setaun, jembleng serendheng.
Wekasane pancen ngelmu iki tetep wigati jroning numapaki ombah-mosiking jaman. Awit sakaliring bab kang sesambungan klawan urip lan panguripan kudu kaayati klawan ngelmu. Nanging sabisa-bisa ngelmu ora winates ditegesi pinter, prigel lan kendel, nanging uga winengku marang laku utama, ngabdi mring Gusti uga ngawula mring kawulaning Gusti. Perlu karacik ukuran tumata tumrap kang kaanggep putus ngelmune. Sawijine bangsa bakal rusak lamun winengku klawan wong-wong bodho. Nanging bakal tambah rusak yen winengku wong pinter nanging murka lan srakah. Ngaten!

Witing Tresna Jalaran Saka Kulina

Yan Tohari (Sanggar Pari Sawuli – Karangdowo, Klaten)


Saweneh kanca wanita teka klawan gembol pitakon, “Geneya awakku dadi kasengsem klawan dheweke?” Durung nganti penulis paweh tanggapan, dheweke takon maneh,”Apa bener iki sing diarani witing tresna jalaran saka kulina?” Yah, pitakon sing keri iki pancen wiwit suwe lan teka seprene pantes dadi rembug. Waiting tresnen jalaran saking kulinten - , mangkono budayawan Darmanta Yatman asring ngandhakake - pancen asring nuduhake kekuwatan, lamun unen-unen Jawa iku dudu ngayawara.
Amung emane unen-unen kasebut dening sawetara pihak ditegesi klawan werdi kang banget rupak. Kadidene kancane penulis ing ndhuwur, witing tresna jalaran saka kulina asring diraketake klawan crita tresna antarane priya lan wanita. Kamangka kulina utawa tumindak kang mawola-wali katindakake kanthi ajeg (pakulinan), iku bakal nuwuhake tresna ing apa wae. Datan ngemungake perkara asmara.
Ora aneh para pinter Barat nyebutake lamun satemene pribadi kita iki tuwuh utawa cures kadayan saka apa kang dadi pakulinane. Embuh salah embuh bener, waton dadi pakulinan bakal katresnani lan kuwawa maujud dadi ciri-wanci (karakter), utawa budaya tumrap saweneh kaum/bangsa. Budaya positif (utama), ngemu panduga bakal jaya. Kosokbaline budaya negative (ala), paweh kalodhangan kanggo sirna.
Budhal anane panemu iki becik kita nlesih maneh klawan apa sing dadi pakulinan kita, munggahe mring budaya bangsa iki. Apa kulina males, mesthi dadi pribadi kang lumuh. Apa kulina nabung mesthi dadi pribadi kang sugih, apa kulina apus-apus mesthi wae dadi pribadi kang julig, apa kulina saru mesthi dadi pribadi lekoh? Apa kulina sinau mesthi dadi wasis, apa kulina gegladhen mesthi bakal dadi trampil?
Umume pakulinan ala luwih gampang lan karasa nikmat ing wiwitane kanggo katindakake, katimbang saweneh pakulinan becik. Nanging kekarone yen katindakake, padha-padha bisa nuwuhake rasa tresna utawa nggathok. Salaras klawan wujud tindake, ing undhuh-undhuhane uga bakal tinemu loro kanyatan. Kulina becik tuwuh becik lan kulina ala bakal tuwuh ala. Bab kang wis dadi pakulinan, merlokake kuwanen sarta kekuwatan luwih kanggo ngowahi. Luwih-luwih yen pakulinan iku ing kaalan.
Jumbuh klawan unen-unen ing ndhuwur, samesthine kita gegulang klawan pribadi kita mring pakulinan utama. Awit pakulinan utama sing kuwawa nuduhake kaluhuran jejere manungsa. Saben-saben pribadi bakal darbe rega lamun bisa nuduhake kadarben kang utama. Dene kadarben sing ala amung selot ngringkihake ajine manungsa iku dhewe. Korup, saru, ngamuk, julig, rakus, lan sapanunggalane, ngatonake ing pribadi mau wis tan metungake maneh ing sipating janma. (*)

Minggu, 06 Juni 2010

Cerkak : KOTANG

dening : Yan Tohari

“Kandhakna, yen aku wis ora tresna maneh karo kowe, Nur. Ngono Kang, kandakna!” isih esuk, nanging swara iku sasat mercon kobong kemrotok saka lambene Menur. Wong wadon iku katon ngame-ame sing lanang, Surasa. Dene sing lanang kang karepe ngetokake becak amung meneng sarta bingung klawan apa kang katindakake bojone. Embuh marga apa, yen dhuwit etuk-etukane wingi sore sing mulih nggawa dhuwit limolas ewu thok wis dipasrahake kabeh. Embuh setan gundhul ngendi sing manjing ing bun-bunane Menur, weruh-weruh kok ngamuk punggung sura tan taha.
“Hayo, cepet Kang. Ora mung lingak-linguk api-api ora ngerti!” Menur katon tambah muntab awit datan katanduki klawan sing lanang.
“Kowe kuwi ana apa ta Nur?” Surasa selot bingung.
“Ana apa-ana apa! Api-api ora ngerti, apa pancen kumbi? Wong lanang bejat!”
“Aku pancen ora ngerti tenan, Nur. Ana apa iki?”
“Ora ngerti? Wong lanang cluthak! Wis mlarat kakehan tingkah,” mripate Menur pendirangan, selot muluk bramantyane. Saiki ora mung swara kang jumbedher nanging tangane uga wiwit ngamuk, abrak-abrak sing kacandhak disaut, dibanting, kauncalake menyang njaba. Ompreng kabanting, piring kasaut dikeplekake, sumyur dadi sawalang-walang. Esuk iku, esuk kang aneh ing gang Prenjak, gange para tukang becak ing kutha iki. Kahanan kuwi dadekake para tangga teparone padha nyawang klawan panyawang aneh. Aneh, nyata-nyata aneh.
Pancen padu, rebut etung lan gegeran liyane dadi rerenggan mligi ing gang iku. Werna-werna sebabe, embuh dhuwit sing kurang, kalah main, mendem, apa merga konangan anggone dhemenan, lan liya-liyane. Nanging apa kang dumadi ing kulawargane Menur lan Surasa pancen kaanggep aneh. Menur, wong wadon sing luwih patang taun iki ngrenggani uripe Surasa kawawas wong wadon kang kondhang meneng. Dheweke ora kaya wong wadon liyane sing tansah ngomong kurang, nadyan dhuwit sapira-pira diwenehake sing lanang. Menur wanita kang nrima ing pandum, sajake dheweke nglenggana Surasa kang amung tukang becak pancen hasile sarwa tipis. Karo maneh becak harak wis wiwit kaanggep nyebeli ing sawetara kutha-kutha gedhe, untung wae ing kutha iki tetep nganggep becak isih patut ana.
Ewasemana esuk iku, Menur katon dudu kaya biyasane. Wong wadon iku ilang sipat menenge malih dadi landhep lan galak. Embuh kadayan saka apa. Nanging mesthi iki saweneh bab kang paling gawe atine serik. Ewasemana Surasa ora paham marang apa sebabe. Semono uga tanga-tanggane ngrasakake aneh klawan lageyane Menur.
“Ana apa ta Menur kuwi?” pitakone Yu Jati klawan Warinah.
“Embuh, mbokmanawa Surasa kalah main,” sambunge Warinah.
“Wong wis kalah kok dadak nesu,” Yu Trinah melu nyaut.
“Ning aneh, lho. Ora tau-taune Menur tumindak ngono,” Yu Jati pratela.
“Ya, sapa ngerti Surasa duwe dhemenan,” Warinah nyambung maneh.
Mangkono kaelokan ing omahe Surasa esuk iku padha dadi rembug. Nanging Menur datan mendha, saiki wis meh kabeh isen-isene pawon padha mencelat ana njaba. Ompreng, wajan, kendhil lan ember-ember katon pating blesah ngebaki gang kang pancen wis ciut lan rupak iku.
“Eling, eling Nur, kowe kuwi ana apa. Ana perkara ya dirembug aja mung terus ngamuk ngono kuwi,” Surasa sajak ngarih-arih bojone. Nanging Menur kang krungu tembunge Surasa iku malah kepara kaluwih-luwih pangamuke. Sawuse marem bisa ngowat-awut isining pawon, saiki Menur bali mlayu ing njeron ngomah. Saiba kagete Surasa bareng metu ing tangane bojone wis gegem kenceng lading kang kulina kanggo iris-iris ana pawon. Mripate Menur abang angatirah, prasasat mripate Bethari Durga kang lagi kalab lan kobar atine.
“Saiki ngaku ora kowe, wong edan,” tembunge Menur klawan ngrangsang awake Surasa. Tujune Surasa pinter ngendhani lan murih ora kedawa-dawa bratayuda esuk kuwi, Surasa tumuli nyengklak becake lan nggeblas. Menur amung bisa mencak-mecak nalika meruhi Surasa wis ilang ing enggokan gang lan tumuju dalan gedhe.
Srengenge wis katon dhuwur, panase wis krasa sumelet. Sadawaning dalan pating sumliwer kendharaan oyak-oyakan ninggalake lebu kang kasaut angin terus sumebar ing akasa, kang wekasane tumiba ing pucuk-pucuk suket. Siji loro pemulung wis katon nlusur sauruting dalan klawan kranjang ing gegere. Jangkahe katon kaseret klawan pandeleng landhep,mbokmanawa ana barang kang bisa dijupuk kanggo ngiseni kranjange lan ateges dina kuwi entuk-entukane mentes.
Dene Surasa terus nggenjot becake nurut dalan sing kulina dadi areal makaryane. Atine isih geter campur getir nanduki lelakon sing nembe wae tumama ing uripe dina iku. Salawase urip bebrayan karo Menur lagi iki Surasa ngrasakake yen wong wadon kuwi ngetokake pangeram-eram. Banjur apa sebabe? Iki kang teka iki dadekake Surasa tetep bingung. Bingung setaun jembleng sarendheng. Ana underan apa geneya bojone bisa munclak kanepson prasasat kaya ngeleg-elega jagad. Katlusur mbokmanawa ana kang salah tumrap dheweke, nanging tetep wae Surasa ora kuwawa mbuka.
Sawuse ngliwati prapatan ing penere dalan kang rada lindhuk Surasa ngerim becake. Kepeneran ing sisih tengen dalan ana wit-witan kang edhum, Surasa kepengin lungguhan ana ngisor wit kono pisan nggawe ngarihake napas lan nentremake ati. Becake kainggirake sabanjure medhun lan nentremake ati ana pener ngisor wit trembesi. Angin alus ngobahake gegodhongan sarwa nyisakake hawa silir ing awak, Surasa nyoba unjal ambegan landhung kanggo nguncalake seseging dhadha. Ewasemana tetep ngalela ana tlapukane mripat tumrap tumindake bojone sing katon kliwat wates dina iki.
Rasa nggrantes tan kocapa rumambat ing padoning rasa. Ora krasa ana luh kumembeng ing mripate, nanging sarosane priya kanthi pawakan cilik iki budi, luh iku aja nganti tumetes. Panyawange kepara kabuncang ing awang-awang, katon ana manuk sriti kekejeran nantang sumiyuting angin, mardika, kumeplas ing jagad jembar, tanpa sanggan tanpa panandhang. Ing kene tuwuh panglenggana kang landhep ngiris atine Surasa. Trawang-trawang ngalela ing angen-angene tumrap kahanan uripe sing teka iki isih katindhih ing werna-werna perkara.
Embuh wiwit rekasa kanggo nyukupi kabutuhan padinan, nyukupi sandhang lan pangane anak loro lan bojone, wragat sekolah, kalumrahan, lan kala-kala pepenginan kang ora kena diampah beteke emoh kalah klawan kiwa tengene. Pancen, rerangken kabutuhan sing katone sepele kuwi wae ing pundhake Surasa wis krasa abot, abot temanan. Kuwi wae direwangi awan bengi kudu ngliyeg kanthi becake, kathik wani telat mbayar setoran sewa becak, utang kana utang kene, lan sawernaning kupiya liyane kang nuduhake pambudi kang sarwa rumpil. Tan karasa panggagas iku nuwuhake sagunung rasa dosa, yen jejere wong lanang tan kuwawa mulyakake kulawarga.
“He Surasa, ngapa kowe nyengkruk ana kono?” saweneh swara keprungu sora nratas angen-angene Surasa kang lagi ndedel muluk. Sakala wong lanang iku njola.
“Ngapa kowe thelah-theloh ana kene?” Pardiman kanca mbecake iku nyedhak ing sangisor wit trembesi lan ngambali pitakone.
Surasa ora age-age wangsulan, atine isih getir dening swarane Pardiman kang tanpa sraba-sraba munggel lamunane.
“Ngapa Kang, awakku lagi ora penak,” wangsulane Surasa sakenane.
“Ora, ngono lho. Kowe mau ditakonake karo Si Sarnem, sajak ana kecan apa piye?” Pardiman mesem sajak nggembol rasa cubriya.
“O, nggagas urip wae repot Kang, kok wani-wanine mikir Sarnem.”
“Lho, aja ngono Sa, urip iki wis rekasa, aja mbokpikir kanthi rekasa. Mula kudu ana hiburane. Aja ndlujur, ha…ha…,” Pardiman sing kulina ceplas-ceplos nanduki Surasa klawan ngguyu ngakak.
“Banjur ana apa ta Kang, Sarnem kok nggoleki aku?”
“Lho…. Lha, kowe ta kudune sing luwih ngerti. Isih duwe utang ra?”
“Yen kurangan ya duwe, wong lagi wingi kok wis ditagih, iki wae durung oleh angkatan, sing nggo mbayar apa? Dhengkul?” Surasa ora bisa ngampah rasa mangkel.
“Perkara sabenere aku ya ora ngerti, Sa. Pokok Sarnem meling yen kepethuk kowe, kowe ndang kon mrana,” kandhane Pardiman sajak serius.
Atine Surasa tambah kemetir, gek ana apa iki. Sarnem, randha kang marung pecel iku meling-melingake dheweke. Rumangsane dheweke ora duwe urusan, nanging nadyanta mangkono ora tau-taune wong wadon randha sing kojahe gampang digodha kanca-kancane tukang becak kuwi melingake dheweke. Mesthi iki ana perkara wigati, mangkono batine Surasa kandha. Nanging banjur apa? Kumudu-kudu Surasa jumangkah murih enggal tinarbuka ana lelakon apa maneh ing dina iku. Agahan Surasa menyat saka lungguhane lan nggeblas nuju warunge Sarnem.
Nalika tekan kang katuju, kapinujon kahanan warung rada sepi.
“Ana apa Nem, kok kandhane Kang Pardiman awakmu melingake aku?” ora sranta sawuse lungguh ana lincak Surasa enggal pitakon.
Sarnem ora enggal wangsulan kepara randha kang isih nyisakake praupan kang manis iku mesem kebak teges. Atine Surasa tambah trataban.
“Age Nem kandhakna,” Surasa tambah ora karuwan.
Isih kabuntel esem sarta polatan kang aneh, Sarnem tumuli aweh wangsulan.
“Nanging sepurane dhisik ya Kang, iki duwekmu ta?” kandha ngono Sarnem klawan nuduhake andhuk cilik kanggo lap kringet darbeke Surasa.
“Iya, ning wingi ketoke wis daksaki lan dakgawa bali, ki,” Surasa nanggapi.
“Dudu iki sing mboksaki Kang, mbokmanawa kesusu ana pemehan kono kowe salah nyaut,” Sarnem katon rada klincutan.
“Banjur apa sing dakgawa bali wingi, nganti saiki isih ana sak kathok sijine, iki mau aku kesusu budhale je?” Surasa nlesih klawan sathekruk rasa bingung.
“Kutangku, Kang,” wangsulane Sarnem lirih nanging ing kupinge Surasa kadya gelap mangsa kesanga. Raine Surasa abang branang, mergo keslomot rasa isin.
Bebarengan kuwi kaya tinarbuka geneya bojone esuk mau nesu jaja bang winga-winga. Enggal wae Surasa nyandhak becake lan sarosane nggenjot bali kanggo paweh katrangan klawan Menur. Playune becak terus digelak prasasat kaya lagi diuyak Pak Kartiko, priyayi sugih juragan becak kang kerep nagih setorane. Datan sranta nalika teka dalan cilik mlebu pekarangan omahe Surasa anjlog saka becake lan terus mblandhang mlebu ngomah.
“Nur, Menur….!,” Surasa bengok-bengok.
Nanging njeron ngomah sepi, ora ana wangsulan. Surasa mlebu kamar uga suwung, njujug pawon uga ora ana. Nanduki kahanan iku atine Surasa ketir-ketir, semparet Surasa mlayu menyang mburi. Ing mburi omah uga sepi. Meruhi bojone ora enggal ditemokake, atine Surasa selot katumpukan rasa cubriya. Ana pikiran-pikiran ala kang gumandhul ing angen-angene. Nanging bareng bali menyang ngarep ing kene Surasa digawe kaget klawan sesawangan ing tengah jogan.
Ing tengah jogan ana lading kang gumlethak, lading iku kang esuk mau kagunakake Menur kanggo ngancam awake. Sasisihe lading katon rajoh-rajeh ana barang kang nyubriyani. Surasa nyedhaki, bubar katamatake ora liya kotang. Iya mbokmanawa iki kang dadi panase Menur. Iya barang sepele iki sing dadi underan anane bratayuda ing omahe. Surasa dadi angluh, awake kaya dilolosi. Panyawange rumambat ing nglatar, katon barang-barang kang pating blasah, pating blesar, dadi sara-ara. Geneya barang sepele iku bisa dadi gawe? Batine Surasa pitakon klawan ati thenger-thenger.